Profil
Mengusung semangat kerukunan sosial dan pemanfaatan kawasan kemantren berbasis sejarah budaya, Babad Siti Kemantren 2026 menghadirkan kegiatan pararel berfokus pada lokus masyarakatnya. Kegiatan tahun ini dikemas dalam ruang padat di Taman Budaya Embung Giwangan sebagai bentuk etalase budaya. Sementara aktivasi program dilakukan di lokus masyarakat kemantren.
Fokus pada pengelolaan potensi sejarah dan budaya, baik material maupun non material, kegiatan tahun ini menjadi daya dorong kemandirian masyarakat dengan mengedepankan pemanfaatan penguatan narasi sejarah, serta potensi kawasan yang berkelanjutan. Tawaran gagasan hingga implementasi program dari Kemantren selanjutnya diisampaikan pada publik melalui Dinas Kebudayaan. Seluruhnya telah mengalami proses kurasi gagasan agar dapat diterima oleh masyarakat luas.
Pada tahap evaluasi program-program dari masyarakat, Dinas Kebudayaan Kota Yogyakarta bekerjasama dengan tenaga ahli dan komunitas untuk terlibat langsung pada setiap proses. Pada teknis evaluasi program, masing-masing representasi dari kemantren akan menawarkan gambaran program (kegiatan), sementara tenaga ahli dan komunitas menjadi bagian dari peserta dan pengamat kegiatan. Tujuan dari tahap penjurian yaitu memberi umpan balik dan penilaian objektif terhadap inovasi, keberlanjutan, dan dampak sosial-ekonomi dari program yang telah dijalankan. Proses diskusi dalam penjurian diharapkan dapat mendorong terciptanya kemandirian wilayah yang mandiri, berdaya saing, dan berkesinambungan.





